Sejarah Rayon Ekonomi Bisnis Islam

Sejarah Berdirinya PMII dan Lahirnya Rayon Ekonomi Bisnis Islam

Cikal bakal berdirinya PMII berawal pada masa ketika hukum berada di satu tangan, yaitu presiden. Situasi politik yang dilakukan pemerintah kala itu dianalogikan sebagai perlombaan citra diri.

Sebelum adanya PMII, NU telah memiliki organisasi khusus pelajar, yakni IPNU (Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama) dan IPPNU (Ikatan Pelajar Putri Nahdlatul Ulama). Namun seiring berjalannya waktu, para mahasiswa NU merasa bahwa NU juga perlu memiliki organisasi khusus mahasiswa. Hal ini karena cara berpikir pelajar berbeda dengan mahasiswa, dan mahasiswa dinilai lebih inovatif dalam menyelesaikan persoalan.

Dari sinilah muncul ide mendirikan PMII, didorong oleh hasrat dan keinginan kuat mahasiswa NU untuk memiliki wadah aktivitas di perguruan tinggi Islam maupun umum. Ide tersebut wajar, sebab pada masa itu banyak bermunculan organisasi mahasiswa yang berada di bawah underbouw partai politik.

PMII kemudian hadir sebagai gerakan yang secara emosional berafiliasi dengan Nahdlatul Ulama (NU). Kehadirannya menjadi strategis dan signifikan sebagai pionir gerakan moderasi Islam Indonesia, khususnya dalam dinamika gerakan kaum muda. Dalam wacana diskursus, penguatan masyarakat, dan kepentingan bangsa, PMII selalu dibangun dengan spirit keislaman, kemasyarakatan, dan kebangsaan. PMII pun menjadi komponen muda bangsa yang senantiasa memainkan peran kontributif bagi perjalanan Indonesia.

Rayon dalam Struktur PMII

Rayon merupakan badan otonom tingkat awal bagi mahasiswa yang fokus pada lingkup fakultas. Rayon bertugas mewujudkan cita-cita pergerakan, yaitu “Terbentuknya pribadi muslim yang bertaqwa kepada Allah SWT, berbudi luhur, berilmu, cakap, dan bertanggung jawab dalam mengamalkan ilmunya, serta berkomitmen memperjuangkan cita-cita kemerdekaan Indonesia.”

Banyaknya kader PMII Komisariat Djoko Tingkir Salatiga serta adanya hubungan emosional antar anggotanya membuat koordinasi semakin sulit. Untuk mencari solusi, pengurus komisariat menggelar sebuah acara makrab (malam keakraban) yang membahas permasalahan di PMII sekaligus evaluasi program kerja.

Pada acara ngudoroso di akhir kegiatan, dibahas permasalahan koordinasi dan muncul satu usulan yang merujuk pada Anggaran Dasar PMII Bab VI Pasal 7 tentang sistem kaderisasi di ranah fakultas, yang disebut pengurus rayon (PR).

Awal Berdirinya Rayon Syariah

Berdasarkan Anggaran Dasar tersebut, lahirlah Rayon Syariah STAIN Salatiga pada tahun 2012 dengan ketua pertama Lukman Hakim. Saat itu rayon masih bernama Rayon Syariah dan Ekonomi Bisnis Islam, menaungi beberapa program studi:

  1. Ahwal Al-Syakhsiyyah (AS)
  2. Perbankan Syariah (PS)
  3. Perbankan Syariah D3
  4. Hukum Ekonomi Syariah (HES)

Kepengurusan perdana (2012–2013) menghadapi banyak kendala karena merupakan rayon baru. Namun, semua dapat diatasi dengan kerja sama antar anggota.

2013–2014: Ketua Zukri, menaungi lima prodi yaitu:

  1. Ahwal Al-Syakhsiyyah (AS)

  2. Perbankan Syariah (PS)

  3. Hukum Ekonomi Syariah (HES)

  4. Sejarah Kebudayaan Islam (SKI) 

  5. Pendidikan Guru Madrasah Ibtidaiyah (PGMI)

Pada periode ini suasana kepengurusan lebih kondusif dengan beberapa pencapaian baru.

2014–2015: Ketua Aziz Setiawan

Menaungi prodi AS, HTN (Hukum Tata Negara), HES, dan SKI. Hampir seluruh program kerja terlaksana sesuai rencana.

  1. Ahwal Al-Syakhsiyyah (AS)

  2. HTN (Hukum Tata Negara)

  3. Hukum Ekonomi Syariah (HES)

  4. Sejarah Kebudayaan Islam (SKI) 

Hampir seluruh program kerja terlaksana sesuai rencana.

2015–2016: Ketua Ahmad Fikri Yusuf

Pada periode ini dipandang perlu adanya pemecahan rayon karena perkembangan organisasi sangat cepat.

Pemekaran Rayon dan Lahirnya REBI

Pada periode 2014/2015 diputuskan pemekaran rayon sesuai fakultas di IAIN Salatiga. Rayon yang terbentuk antara lain:

  1. Rayon Zubair Al-Jaelani (Syariah)

  2. Rayon Matori Abdul Jalil (Tarbiyah)

  3. Rayon Sutawijaya (Fuadah)

  4. Rayon Dakwah

  5. Rayon Ekonomi Bisnis Islam (REBI)

REBI lahir pada 31 Agustus 2015, ditandai dengan terpilihnya Ahmad Sudibyo sebagai ketua pertama (2015–2016).

Rayon Ekonomi Bisnis Islam

Daftar Ketua Rayon REBI

  1. Ahmad Sudibyo (2015–2016)
  2. Bahrudin Farid (2016–2017)
  3. Adib Nur Fuad (2017–2018)
  4. M. Azim Mustajib (2018–2019)
  5. Ali Ikhsan (2019–2020)
  6. Kalam Firmansyah (2020–2021)
  7. Dinar Nurdiansyah (2021-2022)
  8. Alamul Huda (2022-2023)
  9. M. Fatkhi (2023-2024)
  10. M. Hadrussa’bani (2024-2025)

Visi, Misi, Tujuan, dan Asas REBI

Visi

“Menjadi gerakan mahasiswa progresif secara gagasan dan kritis dalam melihat realitas sosial serta mendorong transformasi demokrasi dan ekonomi Indonesia.”

Misi

  1. Memperkuat sistem administrasi organisasi secara rapi dan sistematis.

  2. Memperkokoh soliditas dan solidaritas di seluruh level kepengurusan (Rayon, Komisariat, Cabang).

  3. Merumuskan sistem kaderisasi yang relevan dan kontekstual.

  4. Memperkuat ikatan intelektual maupun emosional dengan alumni dan elemen masyarakat sipil.

  5. Meneguhkan peran PMII sebagai agent of social transformation dalam menyikapi isu-isu daerah maupun nasional.

Asas

Rayon Ekonomi Bisnis Islam berasaskan Pancasila, sebagaimana tercantum dalam Anggaran Dasar PMII Bab II Pasal 2.